Ceritanya, itu, seperti ini.
Pada hari Minggu pagi, kira-kira jam setengah enam pagi ...
"Malva, bikin seblak, yuk!" ajak temanku. Temanku ada empat, Mbak Nanda (kelas 7), Nasya (kelas 4), Maira (kelas 5) dan Mbak Ajeng (kelas 7), dan aku sendiri kelas lima. Nah, temanku yang mengajakku membuat seblak itu, adalah Mbak Ajeng.
"Apaan tuh, seblak?" tanyaku yang belum pernah membuat seblak. Sebenarnya, aku sudah pernah dengar nama 'seblak', dari medsos atau media sosial, juga bisa disebut dunia maya. Ada yang menjual seblak, namun aku tidak tertarik sehingga aku melanjutkan pencarianku. Waktu itu, sih, hehehe ... Sekarang, ternyata temanku ada juga yang tahu seblak. Karena temanku mengajak, aku jadi penasaran. Apaan, sih, seblak itu? Permainan, atau apa?
"Seblak itu, kerupuk udang yang masih terbungkus (masih mentah), lalu direbus. Setelah kiwir-kiwir (lembek), kita nguleg bumbu pedas, yaitu garam, bawang putih dan bawang merah dan tentu saja cabai yang berukuran mini, sepuluh buah. Aku menganga, tidak dapat membayangkan seberapa pedasnya seblakku nanti, hihihi ...
Kami mampir ke Indomart dekat rumah kami, dan membeli kerupuk udang, garam dan penyedap masakan. Kami memutuskan masak di rumah Mbak Ajeng. Setelah sampai di rumah Mbak Ajeng, aku menaruh tas selempangku di sofa, lalu beranjak ke dapurnya Mbak Ajeng yang cukup bisa dibilang mewah. Aku menyalakan kompor dan mengisinya dengan air, lalu menunggunya mendidih. Aku dan Mbak Nanda bagian masak, sedangkan Maira, Nasya dan Mbak Ajeng bagian menguleg bumbu. Setelah cukup mendidih, Mbak Nanda menyuruhku menuangkan kerupuk, tapi jangan terlalu banyak. Setelah menuangkan kerupuk, aku merebusnya hingga agak lembek, lalu Mbak Nanda mematikan kompor, dan mengambil kerupuk udang yang sudah lembek itu menggunakan jaring penggorengan. Ia menuangkannya ke sebuah piring, lalu menatanya. Tak lama, bumbu sudah selesai diuleg. Bumbu itu dituangkan, lalu diaduk supaya rata. And, seblak sudah jadi, deh! Kami tinggal mengambil lima buah tusuk gigi. Setelah makanan siap disajikan, kami segera memakannya sampai habis. Huaaah! Pedesnya, tuh, minta ampun, deh! Setelah habis, kami bermain ABC Lima Dasar, sampai jam sembilan pagi, setelah itu kami pulang. Ceritanya sampai disini dulu, ya, Friend! Byeee ...